JAKARTA – Aroma rendang dari nasi kotak menyatu dengan sisa kantuk di wajah Michael Wattimena. Pria yang akrab disapa BMW ini baru saja menginjakkan kaki di Jakarta pukul lima pagi setelah menempuh perjalanan darat dari Jawa Tengah dan Yogyakarta. Namun, lelah seolah menepi saat ia melangkah masuk ke Ruang Rapat Meja Bundar, Lantai 2, Gedung PP GMKI, Salemba Raya, Sabtu (25/4/2026).

Di ruang bersejarah itu, sejarah baru coba dirajut. Bersama Pdt. Penrad Siagian, BMW secara terbuka mendeklarasikan diri sebagai calon Ketua Umum dan Sekretaris Umum Persekutuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) periode mendatang.

Bukan Sekadar Menara Gading
Bagi Michael, PIKI di masa depan tidak boleh hanya menjadi kumpulan cendekiawan yang asyik dengan teorinya sendiri. Ia membayangkan sebuah lembaga riset yang “berotot”—mampu memberi asupan pemikiran konkret bagi pengambilan kebijakan di tingkat nasional.

“Masalah APBN dan Prolegnas harus menjadi kajian PIKI sebagai sumbangan pemikiran. Ini hanya mungkin terjadi jika kita punya jejaring kuat di eksekutif dan legislatif,” ujar mantan Bendahara Umum PP GMKI periode 1996-1998 tersebut.

Pengalaman Michael sebagai Komisaris PT Pertamina Internasional Shipping dan Tenaga Ahli Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjadi modal konektivitas yang ia tawarkan. Meski berbeda warna politik dengan sang menteri, ia membuktikan bahwa relasi profesional dan visi mampu melampaui sekat partai.

Menutup Celah yang Kosong
Di sisi lain meja, Pdt. Penrad Siagian membawa keresahan yang sama. Anggota DPD RI asal Sumatera Utara dengan modal lebih dari 640 ribu suara ini melihat ada ruang kosong di peta politik kebijakan nasional yang selama ini jarang diisi oleh representasi intelektual Kristen.

“Saya melihat peta kebijakan diputuskan, dan hampir tidak ada ruang bagi Kristen di sana, baik terkait HAM, politik, hingga teknologi,” tukas Penrad. Baginya, keputusannya mendampingi BMW adalah keputusan taktis. “Beliau yang paling serius dan visinya jelas.”

Keduanya sepakat bahwa riset dan kajian mendalam adalah kunci, meski biaya yang dibutuhkan tidak sedikit. Solusinya? Kolaborasi lintas sektor—mulai dari kementerian, NGO, hingga lembaga internasional.

Estafet di Kongres VII
Narasi besar ini akan diuji dalam Kongres VII PIKI yang dijadwalkan berlangsung pada 30 April hingga 2 Mei 2026. Menurut Ketua Panitia, Benyamin Patondok, perhelatan akan dimulai dengan Study Meeting di Hotel Lumire sebelum bergeser ke Hotel Grand Melia untuk agenda utama.

Harapan besar juga disematkan agar Presiden Prabowo Subianto dapat membuka resmi kongres ini, menandai pentingnya posisi PIKI sebagai mitra strategis pembangunan bangsa.

Kilas Balik dan Persaingan
Sejarah mencatat, PIKI yang didirikan pada 1963 oleh tokoh seperti Johannes Leimena, sempat mengalami pasang surut sebelum lahir kembali pada 1987. Kini, di tahun 2026, dinamika organisasi kembali menghangat. BMW dan Penrad dipastikan tidak melenggang sendirian. Nama-nama internal seperti Badikenita Putri Sitepu, Audy Wuisan, Iwan Butarbutar, dan Benyamin Patondok.

Diprediksi akan turut meramaikan bursa kepemimpinan. Namun bagi BMW dan Penrad, tujuannya satu: memastikan intelegensia Kristen tidak hanya jadi penonton, tapi juga penulis naskah bagi kemajuan Indonesia. (Ralian)

Add comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Indonesianews.tv merupakan portal berita dalam format full video, dengan rubrik antara lain NEWS, TALKSHOW, LIVE STREAMING, dan MAGAZINE yang dikerjakan profesional jurnalis, perwarta TV, dan webmaster.