JAKARTA – Perdana Menteri Indonesia kedua Amir Syarifudin adalah sosok bapak Republik Indonesia, dan ikut terlibat dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Pdt. Roynaldy Simaremare mengutarakan, Amir adalah aktor intelektual.
“Dia (Amir Syarifudin-red) adalah lensa, di atas gambar yang besar. Percakapan kajian tentang Amir jarang di dengar. Kalau pun didengar sebagai tokoh komunis yang tidak layak dipercakapkan, “kata Roynaldy, dalam diskusi yang digelar Yayasan Komunikasi Indonesia (YKI) bertajuk “Menggali Pemikiran Amir Syarifudin Harahap dan Relevansinya,” Jakarta, Selasa (19/12/2023).
Hadir sebagai Nara sumber Ketua YKI Dr. Bernard Nainggolan. SH.MH, Koordinator Komunitas Cipta Damai Esthi Susanti Hudiono, dan moderator Halomoan Siburian.
Lebih lanjut, dia mengatakan, Amir dan Syarir adalah tokoh yang menolak Jepang. Namun, sayangnya dalam sejarah Indonesia nama Amir nyaris tidak disebut dalam buku-buku pelajaran sejarah Indonesia.
“Sejarahwan Indonesia Asvi Arman Adam juga tidak menyebut sosok Amir Syarifudin dalam pergerakan tahun 1942-1948. Tidak menyebut Amir karena terlibat pemberontakan komunis di Madiun 1948,” imbuh Roynaldy.
Menurut dia, pengaruh Alkitab dalam Kekristenan
dan kemanusiaan yang ada dalam diri Amir.
“Teologis harus konteks masyarakat, dan pergumulan setiap masyarakat. Kekeristenan harus menjawab keadilan dan imprealisme dan kapitalisme. Amir memikirkan banyak orang dan juga banyak memikirkan pergumulan dalam Kekristenan.
Menurut Roynaldy, Amir mengedepan orang Kristen harus bersatu. Jangan memikirkan partai Kristen. Walau pun dia berdiskusi dengan Probiwinoto, pendiri Parkindo.
“Saatnya matinya Amir, dia ditembak mati. Dia selalu membawa kitab Injil. Kitab itu dibawa Amir. Saat berkomunikasi dengan anaknya, dia pesan jangan lupa membaca Alkitab setiap hari,” ujar Roynaldy.
Dalam kesempatan yang sama, Bernard Nainggolan mengatakan, matinya Amir karena dia tidak “membaca” tanda-tanda zaman. “Rakyat masih mempercayai Soekarno-Hatta tapi Amir memilih jalannya sendiri hingga ditembak mati,” ucap Bernard.
Diketahui, Amir Syarifudin lahir di Medan 27 April 1907. Meninggal usia 41 tahun. Tewas ditembak di Madiun, pada 19 Desember 1948. Amir pernah menjabat Perdana Menteri, Menteri Pertahanan, dan Menteri Penerangan. (Ralian)



Add comment