Tokoh Peduli Pendidikan Non Formal
JAKARTA: “Mumpung pakai seragam Kejaksaan dan dipercaya Pimpinan untuk memimpin daerah, ” kata Wakajati Kalimantan Barat (Kalbar) Erich Folanda, SH, M. Hum.
Kalimat tersebut sangat sederhana, justru dari situ pula lah Alumni FH Unpad Bandung ini terusik untuk berbuat sesuatu untuk Kejaksaan.
“Istilahnya, saya hanya memanfaatkan momentum saja, ” tambah pria berkacamata dengan suara merendah, Kamis (23/4).
Atas sumbangsih Erich biasa disapa tersebut, dia kemudian diganjar PKBM Award (Penghargaan) sebagai Tokoh Peduli Pendidikan Non Formal, Rabu (22/4).
Keterlibatan Erich dalam persoalan sosial tidak sendiri. Lebih pantasnya, disebut proyek kolaborasi yang melibatkan Kajati Kalbar Dr. Emilwan Ridwan, Asintel Yadi Rachmat Sunaryadi, SH. MH dan DPW FK PKBM Kalbar dan pihak terkait baik pemerintahan maupun swasta.
Dr. Emilwan Ridwan sendiri dianugerahi PKBM Award 2026 kategori instansi peduli pendidikan non formal sekaligus Bapak Asuh PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) di Kalbar (Kalimantan Barat).
Pernyataan sederhana Erich di atas sangat relevan di tengah kekinian, dimana muncul aneka “gugatan” terkait dibiarkan atau terjadinya pembicaraan atas berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat
PIDATO PRESIDEN
Lalu, apa sesungguhnya yang menginspirasi sehingga Erich melakukan pekerjaan di luar kegiatan dinas dan karenanya diganjar PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Award ?
Kepada IndonesiaTv, dia tuturkan keterlibatan dalam proyek sosial itu berawal dari Pidato Presiden Prabowo Subianto, yang ingin membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat Indonesia untuk dapat menempuh pendidikan, dengan membuka Sekolah Garuda.
Dia kemudian merenung dan berpikir bagaimana dengan nasib masyarakat yang putus sekolah, karena faktor biaya, ataupun orang-orang yang putus sekolah dan tidak punya ijazah, tapi ingin bekerja di perusahaan yang mensyaratkan harus punya ijazah.
Tidak berhenti disitu, dibenaknya terpikir bagaimana persiapkan SDM di Kalbar, yang berdaya saing dalam menghadapi pekerja asing di masa depan, karena Kalbar berbatasan dengan Malaysia, maka harus dipersiapkan dari sekarang untuk masa depan masyarakat yang berdaya saing, khususnya masyarakat Kalbar.
“Ide tersebut saya teruskan kepada Pak Kajati. Beliau menyatakan setuju. Akhirnya, disepakati dijadikan program di bidang Intelijen (pada Kejati Kalbar).
PELATIHAN KETRAMPILAN PLUS
Erich gembira karena idenya tidak bertepuk sebelah tangan, meski sedari awal dia percaya Kajati Kalbar akan menyetujui mengingat latar belakang sebagai akademisi dan sepak terjangnya sebelum ini.
Namun, pria berkulit putih yang sempat dipercaya sebagai Koordinator Pidsus ini merasa belum cukup, bila belum bicarakan lebih lanjut dengan Asintel dan dukungan semua Jajaran Kejati Kalbar serta DPW PKBM Kalbar.
“Syukur Alhamdulillah semua menyambut baik dan mendukung sepenuhnya program tersebut, ” akunya dengan lapang.
Tak ingin buang waktu, Erich sampaikan segera sampaikan bahwa kegiatan pendidikan informal kejar paket A, B dan C tidak sekedar kejar ijazah.
Lebih dari itu, program tersebut harus disertai pelatihan keterampilan khusus, yang dibutuhkan perusahaan yang ada di Kalbar.
Tentu, untuk itu harus melibatkan dan atau bekerjasama dengan pihak swasta dan Pemprov serta Pemkab/Pemkot melalui Balai Pelatihan Kerja, dengan peralatan dan media latihan serta instruktur yang disiapkan perusahaan.
“Jadi, kita minta bantuan peralatan dan instruktur/pelatih profesional saja, ” ucap Erich.
Peserta program tersebut, segala umur termasuk mantan narapidana, yang penting punya niat mau belajar dan mengasah keterampilan.
Selesai ikut program diharapkan nantinya, selain dapat ijazah menempuh pendidikan sekolah (ijazah resmi dari Diknas : SD, SMP, SMA) juga peserta dapat ijazah/sertifikat keterampilan/keahlian tertentu.
Kemudian, lanjut Erich Pemprov atau Pemkab/Pemkot melalui Disnaker memantau alumni-alumni program tersebut untuk menyalurkan ke perusahaan-perusahaan melalui tes/ujian masuk kerja yang berstandar.
“Hasilnya, jika ada yang tidak lulus/tidak memenuhi standar, maka harus dilaporkan untuk evaluasi perbaikan metode pembelajaran dan pelatihan, sampai standar kualitas dari lulusan program ini memenuhi syarat untuk bisa masuk/bersaing dalam lapangan pekerjaan, baik dalam negeri maupun luar negeri, ” ujarnya mengingatkan bahwa program tersebut selalu dievaluasi dan tidak berhenti pada pelaksanaan program.
“Semacam pelatihan ketrampilan khusus plus, ” sebutnya.
Sebelum akhiri perbincangan, kepada IndonesiaTv Erich yang tidak lama lagi akan dilantik sebagai Wakajati Jateng menambahkan apa yang telah dan tengah dilakukan juga terinspirasi cerita Jamwas (Jaksa Agung Muda Pengawasan) dan Kegiatan Pak Jamintel (Jaksa Agung Muda Intelijen).
“Saya sangat terinspirasi dengan sekolah dibawah kolong jembatan dari program Pak Jamintel, ” pungkasnya. (ahi)



Add comment