INDONESIANEWS.TV- JAKARTA: Diskusi publik dengan topik “Sabam Sirait  Politik Negarawan di Mata Lintas Tokoh Agama”  pada hari  Kamis 28   April 2022 yang dibesut oleh Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia  dilatar belakangi oleh  Jejak politik Sabam Sirait. 

Kutipan kata-kata Sabam Sirait menyerukan agar politisi menjadi negarawan.

“Negarawan bukanlah jabatan, dan kita memerlukan negarawan lebih banyak lagi. Semua politisi harus menjadikan negarawan menjadi cita-cita utamanya,” kata Stafaua BPIP Benny Susetyo.

Syarat utamanya tidak boleh korupsi merupakan bukti bahwa Sabam Sirait adalah tokoh yang penting dalam upaya mencetak negarawan mumpuni di masa depan.

Karenanya dirasa perlu membahas figur Sabam Sirait sebagai negarawan dari perspektif lintas agama karena beliau  merupakan tokoh nasional, sesepuh bangsa dan pemimpin rakyat yang perjuangkan terus menerus  untuk merawat keberagaman.

Dalam paparannya Staff khusus Dewan Pengarah BPIP Benny Susetyo  menyatakan bahwa figur Sabam Sirait amat mengerti bahwa kita sebagai satu kesatuan Bangsa Indonesia harus mampu  membangun demokrasi yang sehat .

“Sabam Sirait selalu berusaha dan tidak pernah lelah untuk mengembalikan Demokrasi Pancasila  sebagai  pedoman di Negara ini, Sabam lebih mementingkan kepentingan Negara dibanding kepentingan pribadi maupun golongan,” kata dia.

Sabam sebagai negarawan lebih mengetengahkan politik suara hati, dimana dalam bergerak  Sabam lebih mengetengahkan nilai nilai luhur bernegara yang terangkum dalam Pancasila .

“Beliau bahkan  berani  melawan status quo  semata mata demi mewujudkan  keadilan yang merupakan kenyataan hidup manusia sebagai mahluk Tuhan,” jelas Benny.

Masyarakat Indonesia  hendaknya dapat meneladani sikap Sabam  yaitu memiliki hati bersih dalam menyikapi  politik dan demokrasi hingga  dalam prosesnya  kita dapat mengerti dan bijak dalam menjalankan hak sebagai warganegara.

“Kita tidak hanya berpolitik tapi juga mampu menjadi negarawan. Mulailah untuk  menghindari  politik identitas yang menyinggung tentang suku agama dan unsur primordialisme, serta politik uang yang semata mata digunakan hanyaa untuk memperlancar upaya kemenangan,” ungkap Benny. (Nugroho)

Add comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *